RUU Perkawinan Gay di Prancis Ditolak

Paris – Kepolisian Prancis bentrok dengan lebih dari 300 ribu pengunjuk rasa di landmark Ibu Kota Paris, Champs-Elysees, yang menolak pembahasan Rancangan Undang-Undang Perkawinan Sejenis dan adopsi anak.

Ratusan ribu orang itu, termasuk aktivis konservatif, anak-anak, pensiunan, dan tokoh gereja, berkumpul pada Ahad, 24 Maret 2013, untuk menyatakan penolakannya atas rancangan tersebut. Bahkan di antara pemrotes banyak yang datang dari berbagai provinsi di Prancis menggunakan bus.

Prancis sebenarnya negeri yang dikenal liberal dan secara politik dikuasai oleh kelompok sosialis, namun sebagian masyarakatnya juga penganut Katolik yang taat. Merekalah yang kini menolak perkawinan gay atau lesbian.

Bulan lalu, majelis rendah parlemen Prancis menyetujui rancangan undang-undang untuk melegalkan “perkawinan bagi siapa pun” dengan dukungan mayoritas anggota parlemen. Selanjutnya, persetujuan ini akan dibahas di Senat bulan depan. Dua lembaga (majelis rendah dan tinggi) ini didominasi oleh Partai Sosialis pimpinan Presiden Francois Hollande dan aliansinya.

Sebelum diajukan ke Senat, kelompok konservatif dari Gereja Katolik dan kelompok oposisi terus-menerus menunjukkan perlawanannya dalam beberapa bulan ini. Aksi mereka juga didukung oleh aktivis lainnya saat akan dilakukan perdebatan di Senat, Ahad, 24 Maret 2013.

Beberapa jam sebelumnya, aksi mereka tampak damai. Namun, tak lama kemudian, seperti ada tiupan angin kencang, sekitar 100 pemuda mencoba menekan barikade polisi masuk ke dalam Champs-Elysees.

Aksi ini disambut petugas kepolisian dengan tembakan gas air mata dan pentungan terhadap para pemuda untuk memaksa mereka mundur. Unjuk rasa bukannya pudar, justru kian menjalar. Ribuan demonstran lainnya juga berusaha menutup jalan-jalan utama menuju Istana Presiden, Elysee Palace.

Polisi seperti kewalahan menghadapi pengunjuk rasa yang kian brutal, sehingga aparat menembakkan gas air mata lebih banyak lagi, namun tetap tak sanggup menghalau massa menguasai jalan-jalan utama. “Hollande Turun!” demonstran berteriak sebelum mereka menyanyikan lagu kebangsaan Prancis La Marseillaise.

Bagi sejumlah orang, unjuk rasa ini sebagai bentuk kemarahan dan kekecewaaan mereka terhadap Presiden Hollande. Seorang pejabat di markas kepolisian Prancis yang tak bersedia disebutkan namanya mengatakan, dalam aksi tersebut mereka menahan dua orang dan tidak ada yang cedera.

Siaran televisi Prancis menampilkan gambar-gambar bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa, termasuk tembakan gas air mata petugas terhadap sekelompok demonstran yang mengenakan pakaian pink dan meneriakkan slogan anti-Hollande.

Di Prancis, kelompok penentang gay kerap mengenakan pakaian pink. Menurut taksiran polisi, unjuk rasa Ahad diikuti sedikitnya 300 ribu orang. Unjuk rasa ini merupakan yang kedua kalinya pada tahun ini, setalah aksi serupa pada Januari 2013.(*tco/AL JAZEERA)

Fasilitas Komentar Tidak Tersedia.