Proyek Listrik Bawah Laut Lombok Dihentikan Sementara

Mataram, KabarNTB – Proyek pembangunan kabel listrik bawah laut dari Pulau Lombok ke tiga gili wisata yakni Trawangan, Meno dan Air, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, yang dikerjakan sejak awal 2011, dihentikan sementara atas permintaan pemerintah provinsi.

“Diminta berhenti sementara untuk dilakukan koordinasi dengan dengan pengelola kawasan konservasi laut di tiga gili itu,” kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Eko Bambang Sutedjo, ketika dikonfirmasi di Mataram, Kamis.

Ia mengatakan, permintaan untuk menghentikan sementara proyek kabel listrik bawah laut itu karena adanya sikap protes dari pihak tertentu seperti Balai Kawasan Konservasi Nasional di yang mencakup kawasan tiga gili itu.

Aktivis di kawasan konservasi nasional dibatasi oleh aturan, sehingga PLN sebagai pelaksana proyek pembangunan kabel listrik bawah laut itu, juga harus mematuhi aturan yang berlaku.

“PLN harus urus izin sebelum memulai kegiatan di kawasan konservasi itu,” ujar Eko saat menjelaskan alasan permintaan penghentian sementara proyek pembangunan kabel listrik bawah laut itu.

Sebelumnya, General Manager PT PLN Wilayah NTB Akbar Ali mengatakan, PLN NTB berencana menyediakan mesin pembangkit listrik berkapasitas 10 mega watt (MW) untuk pelayanan listrik melalui kabel bawah laut ke Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Sementara ini kebutuhan listrik di tiga gili itu mencapai enam MW.

Pihaknya membutuhkan sekitar Rp20 miliar untuk membangun kabel bawah laut yang akan mengirimkan listrik sekitar 10 MW sepanjang tiga kilometer.

Kabel bawah laut yang digunakan berkapasitas 20 KVA, yang ditarik dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara di Jeranjang, Kabupaten Lombok Barat, berkapasitas 25 MW.

Pilihan kabel listrik bawah laut untuk melayani kebutuhan listrik penduduk yang bermukim di Gili Trawangan itu erat kaitannya dengan prinsip kenyamanan bagi para wisatawan.

Gili Trawangan merupakan kawasan wisata idaman para wisatawan yang mencintai aktivitas petualangan karena keberadaan gili yang dipisahkan laut dari pulau Lombok ini menyaingi kemashuran pulau Dewata di mata wisatawan mancanegara.

Sejauh ini para wisatawan mancanegara menjadikan kawasan wisata itu sebagai tempat peristirahatan yang bebas dari deru mesin kendaraan bermotor. Apalagi, suara mesin diesel pembangkit listrik yang melebihi deru mesin kendaraan bermotor.

Para wisatawan mancanegara tidak menghendaki bunyi mesin pembangkit listrik sehingga pilihan bagi PLN yang sejalan dengan pengembangan sektor pariwisata yakni jaringan listrik bawah laut.

“Dulu direncanakana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tapi ternyata jarak antara daratan dengan lautan itu relatif dekat., sehingga dibangun kabel listrik bawah laut,” ujarnya. (Ant)

Sumber : antaramataram.com

Fasilitas Komentar Tidak Tersedia.